Joged Khas Lombok Yang Menghidupkan Suasana Malam Hari

Joged Khas Lombok Yang Menghidupkan Suasana Malam Hari

Joged adalah salah satu kesenian tradisional masyarakat Lombok, yaitu Suku Sasak. Masyarakat sekitar menyebut tarian sebagai Joged. Tarian tersebut biasanya dilakukan dengan menggunakan pakaian khusus untuk menyelenggarakan tarian tersebut. Berawal dari tarian dan musik khas Lombok, menjadikan joged terebut banyak diminati masyarakat suku Lombok hingga sekarang.

Pada umumnya, joged diadakan oleh satu kelompok (grup Sakahe) seni tradisional yang ada di beberapa desa tertentu di daerah Lombok. Penyelenggaraan joged biasanya akan dimainkan pada malam hari untuk mengisi acara pernikahan, khitanan, atau hanya sekedar menyewa untuk tontonan warga sekitar. Sang pemain juga dibagi menjadi beberapa bagian dari pemain musik sebagai pengiring, penyanyi, dan yang menjadi penarik para penonton adalah yang berjoged. Joge hanya dimainkan oleh satu atau dua wanita yang berperan sebagai nyonyah (tukang joged).

Selanjutnya, sang nyonyah akan joged dengan membawa kipas sebagai aksesoris pelengkap tarian tradisional ini. Sang penari biasanya akan melakukan gerakan tarian khas Lombok yang di kolaborasi dengan joged-joged dangdut pada umumnya. Jika di lihat dari gerakannya, sekilas tarian tersebut hampir mirip seperti tarian khas Bali. Tarian Suku Sasak ini sempat hampir hilang terkubur zaman karena tidak ada yang melestarikan tarian tradisional khas Lombok ini.

Belakangan viral sebuah video yang di unggah ke beberapa media sosial. Video tersebut nampilkan sebuah tarian khas Lombok yang tidak diiringi dengan musik tradisional Lombok, melainkan lagu dangdut yang diaransemen oleh para pemusiknya. Parodi tersebut menyelenggarakan joged dengan cara menampilkan sang nyonyah bernama Ida Ocet. Video tersbut menjadi viral karena joged an sang nyonyah yang sangat lincah, serta menarik perhatian sejumlah warga sekitar dan para netizen media sosial.

Selain cantik parasnya, sang penari juga memiliki keahlian dalam melenggokkan tubuhnya dengan sangat menawan. Sang penonton juga ada yang di beri kesempatan untuk ikut joged bersama nyonyah, dan tak sedikit yang memberikan saweran untuknya. Parodi ini seperti ngamen, namun mereka tidak ada yang meminta uang kepada sejumlah penonton yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut. Namun mereka sendiri yang memberikan uang, bukan uang upah melainkan sebagai rasa senang karena sudar terhibur oleh pertunjukkan joged tersebut.

Kini pertunjukan joged khas Lombok telah ramai menjadi salah satu pertunjukan tarian dengan musik-musik moderen atau musik permintaan dari sang penyewanya. Namun untuk gerakan tari nya tetap tarian khas Lombok yang sangat menggoda.